Semiskin Apapun Anda, Asalkan Tidak Miskin Ilmu dan Hati :) (Cerita Inspirasi MPKMB 47)

2010
09.08

(Aini Nur Syafa’ah, H34100138, Laskar 20) Teman saya ini lahir di keluarga yang tidak mampu. Kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai pedagang. Ayahnya buta, sehingga untuk berjualan beliau selalu ditemani oleh teman saya ini. Ibunya berjualan pempek, kadang-kadang es lilin keliling kampung. Dengan semua penghasilan mereka, selalu tidak cukup untuk menghidupi kesebelas anaknya sampai-sampai ada beberapa yang meninggal karena kekurangan makanan.

Keluarga ini berusaha untuk mengatur keuangan mereka. Anak-anak yang tidak beruntung tidak disekolahkan. Terkadang jika waktu libur, teman saya membantu ayahnya berjualan. Entah itu menjaga dagangan, berjualan kantong plastik ataupun menyemir sepatu. Pernah sekali waktu dia tertidur saat menjaga kotak semir sepatunya dan saat terbangun dia terkejut bahwa ada uang di atas tangannya. Walaupun dengan keterbatasan yang dia punya, dia tidak pernah lupa untuk belajar. Buku-buku yang dia punya adalah bekas kakak kelasnya ataupun meminjam. Sebisa mungkin dia memanfaatkan waktu kosongnya untuk belajar.

Dia terus bertekad untuk keluar dari kemiskinan, walaupun banyak orang yang bilang tidak akan mungkin. Waktu terus berjalan sampai teman saya lulus SD, SMP, SMA dan kuliah. Ada yang bilang, jadi sarjana saja sudah cukup tetapi dia berkata belum cukup.

Walaupun di tengah masa kuliah selalu saja ada masalah finansial dia berusaha menutupinya dengan bekerja sampingan. Lalu secercah harapan menghampirinya saat ada lowongan pekerjaan di salah satu pabrik penghasil pupuk di Palembang. Lagi-lagi banyak yang mencemooh karena dia lulusan universitas yang tidak terkenal. Dengan usaha yang kuat akhirnya dia berhasil mendapatkan pekerjaan. Dari seorang tukang semir dan penjual kantong plastik sekarang menjelma menjadi karyawan yang berkecukupan. Walaupun hidupnya sudah berubah, dia tidak melupakan darimana dia berasal. Kalaupun ada rejeki yang cukup, dia selalu menyantuni orang-orang yang tidak mampu di kampungnya, saudara-saudaranya juga. Dan hal yang selalu saya ingat dari teman saya ini adalah kata-katanya yang menjadi inspirasi siapa saja: Dari manapun Anda, semiskin apapun Anda, jangan sampai Anda miskin ilmu dan hati karena itulah yang akan mengeluarkan Anda dari kemiskinan =)

Jadilah Seperti Pensil (Cerita Inspirasi MPKMB 47)

2010
09.03

(Aini Nur Syafa’ah, H34100138, Laskar 20) Semenjak duduk di bangku SMP saya tidak suka dengan pelajaran geografi karena  saya tidak terlalu paham dengan pokok bahasan materinya. Oleh karena itulah setiap mata pelajaran geografi, nilai saya selalu buruk. Saya merasa sangat malas untuk mempelajari. Jangankan untuk membaca atau mengulang materi yang sudah pernah diajarkan, berniat untuk membuka bukanya saja saya tidak punya.

Pada suatu ketika, saya dipanggil oleh guru geografi. Ini berkaitan dengan nilai-nilai saya yang buruk. Lalu, beliau menganjurkan saya untuk mengikuti pelajaran tambahan setelah pulang sekolah. Awalnya saya tidak mau. Buat apa kita mempelajari sesuatu yang tidak mau kita pelajari? Sesuatu yang diawali dengan ketidakikhlasan pasti selalu gagal. Namun, dengan pertimbangan akan menghadapi ujian nasional, akhirnya saya menyetujui usulan beliau.

Ternyata, mengikuti pelajaran tambahan tetap tidak bisa membuat nilai geografi saya membaik. Namun, guru geografi saya dengan sabar membimbing saya agar selalu bersemangat terus belajar. Sebelum beliau ‘pulang’, beliau pernah berkata kepada saya bahwa menjadi siswa haruslah mencontoh sebuah pensil yang memiliki lima kualitas yang mampu membantu kita menjalani problem dalam hidup. Salah satu yang paling saya ingat dan sampai sekarang menjadi prinsip saya adalah dalam proses menulis, kadang kita beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan tersebut pasti akan membuat pensil menderita. Akan tetapi, setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kita saat ini, dalam proses belajar terkadang ada rasa jenuh dan malas, namun jika kita memiliki niat yang kuat maka itulah tombak yang dapat membuatmu lebih berhasil nantinya.

Setelah mendapatkan nasihat itu saya mulai giat belajar. Dan memang beliau benar, dengan didasari niat dan usaha yang kuat, kita akan mendapatkan hasil yang maksimal sehingga hasil ujian saya memuaskan. Dari cerita ini saya dapat menyimpulkan bahwa sesuatu yang didasari oleh niat yang positif dan dikerjakan untuk hal yang positif akan menghasilkan sesuatu yang bernilai positif juga. Semoga cerita saya dapat memotivasi Anda semua.